Abdullah Arafah Siapkan Sharing Session 2.0, Dorong Radio Sumsel Naik Kelas di Era Digital

Sumsel 28 Sep 2026 15:01 • 4 min read • 7 views • By Redaksi TVRINews Sumsel

Share berita ini

Abdullah Arafah Siapkan Sharing Session 2.0, Dorong Radio Sumsel Naik Kelas di Era Digital
Abdullah Arafah menegaskan komitmennya untuk mendorong lembaga penyiaran di Sumsel agar semakin adaptif dan mandiri menghadapi perubahan industri media.

PALEMBANG - Kembali dipercaya sebagai Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sumatera Selatan periode 2026–2029, Abdullah Arafah menegaskan komitmennya untuk mendorong lembaga penyiaran di Sumsel agar semakin adaptif dan mandiri menghadapi perubahan industri media.

Pada periode keduanya, Abdullah dipercaya sebagai Koordinator Bidang Kelembagaan KPID Sumsel. Dalam peran tersebut, ia akan memperkuat komunikasi, kolaborasi serta pendampingan dengan lembaga-lembaga penyiaran, khususnya radio dan televisi di Sumatera Selatan.

Salah satu gagasan yang ingin kembali dikembangkan adalah program “Sharing Session”. Program ini sebelumnya telah dijalankan Abdullah bersama sejumlah lembaga penyiaran di Sumsel, dengan pembahasan yang tidak hanya berkaitan dengan teknis siaran, tetapi juga menyentuh aspek pengelolaan bisnis media.

“Dulu melalui Sharing Session saya banyak berdiskusi dengan teman-teman lembaga penyiaran. Kita tidak hanya bicara soal bagaimana membuat program siaran yang menarik, tetapi juga bagaimana radio dan televisi bisa dikelola sebagai sebuah bisnis, bagaimana mendapatkan revenue, bagaimana menjual program, bagaimana penyiar bisa menjadi bagian dari kekuatan pemasaran radio, dan bagaimana lembaga penyiaran beradaptasi dengan perubahan zaman,” ujar Abdullah Arafah.

Menurut Abdullah, perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi dan hiburan membuat lembaga penyiaran konvensional perlu melakukan penyesuaian. Namun, proses adaptasi tersebut tidak berarti harus meninggalkan karakter utama radio maupun televisi.

Ia menilai radio perlu mulai memandang dirinya bukan hanya sebagai media yang mengandalkan siaran melalui frekuensi, tetapi sebagai media yang dapat hadir di berbagai platform.

“Kita harus mulai bersiap. Radio tidak boleh hanya berpikir bahwa bisnisnya adalah siaran melalui frekuensi. Radio harus mulai melihat dirinya sebagai sebuah media yang bisa hadir di berbagai platform,” katanya.

Digitalisasi, lanjut Abdullah, justru dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan audiens, membangun komunitas, memperkuat branding, mengembangkan konten hingga membuka peluang bisnis baru.

“Jangan sampai kita melihat digital sebagai ancaman. Digital justru harus kita jadikan peluang. Tantangannya adalah bagaimana teman-teman radio mampu mengubah pola pikir, meningkatkan kualitas SDM dan mencari model bisnis baru yang sesuai dengan karakter audiens hari ini,” jelasnya.

Berbekal pengalaman sekitar 25 tahun di industri radio dan televisi, baik lokal maupun nasional, Abdullah melihat tantangan lembaga penyiaran tidak hanya berkaitan dengan perkembangan teknologi.

Menurutnya, penguatan manajemen, sumber daya manusia, kemampuan penyiar, pemasaran, kreativitas program, pemanfaatan media sosial serta kemampuan membaca kebutuhan audiens juga menjadi bagian penting yang harus diperhatikan.

Karena itu, ia berharap KPID Sumsel dapat membangun komunikasi yang lebih kuat dengan industri penyiaran sesuai tugas dan kewenangannya. KPID, menurut Abdullah, tidak hanya memiliki peran dalam pengawasan isi siaran, tetapi juga dapat mendorong terciptanya iklim penyiaran yang sehat dan profesional.

Hal tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, yang antara lain mengatur peran KPI dalam mendorong terciptanya iklim persaingan yang sehat antarlembaga penyiaran serta profesionalitas sumber daya manusia di bidang penyiaran.

“Sebagai Koordinator Bidang Kelembagaan, saya ingin membuka ruang komunikasi yang lebih luas. Kalau ada persoalan yang dihadapi lembaga penyiaran, mari kita diskusikan. Kalau ada yang ingin mengembangkan bisnisnya, mari kita cari gagasannya bersama. Kalau ada SDM yang perlu ditingkatkan, kita dorong penguatannya,” ujarnya.

Abdullah juga mengajak lembaga penyiaran, khususnya radio, untuk tidak menghadapi perubahan industri media secara sendiri-sendiri.

“Saya tidak ingin teman-teman radio berjalan sendiri-sendiri dan akhirnya menemukan jalan buntu. Kita harus duduk bersama, melihat apa yang menjadi persoalan, kemudian mencari solusi dan peluangnya. Saya siap memfasilitasi komunikasi dan sharing bersama teman-teman lembaga penyiaran,” tegasnya.

Ia menilai keberadaan radio masih memiliki ruang di tengah perkembangan media digital. Yang diperlukan, kata Abdullah, adalah perubahan dalam cara mengelola dan mengembangkan bisnis penyiaran tanpa menghilangkan karakter radio sebagai media yang dekat dengan masyarakat.

“Radio belum selesai. Yang harus kita ubah adalah cara kita mengelolanya. Radio harus tetap punya karakter, tetap dekat dengan pendengar, tetapi juga harus hadir di ruang digital. Saya ingin mendorong teman-teman penyiaran Sumsel untuk sama-sama mempersiapkan itu,” pungkasnya.

Melalui penguatan komunikasi dan kolaborasi tersebut, Abdullah berharap periode keduanya di KPID Sumsel dapat ikut mendorong terbentuknya ekosistem penyiaran yang lebih adaptif, profesional dan kreatif, sekaligus mampu melihat perkembangan digital sebagai peluang untuk memperkuat keberlanjutan industri penyiaran di Sumatera Selatan.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

TVRI News Sumsel